Home Living

Long journey to become a designer. This is a short story of our designer’s journey, profiling at Home Living Magazine, July 2016.

Design Compromised by Nathaniel Wijaya

Nathaniel atau  disapa Nathan adalah salah satu desainer  interior muda yang berani untuk keluar dalam zona aman saat menjabat menjadi salah satu desainer dalam brand bedding ternama. Setelah lima tahun bergabung, ia memutuskan mendirikan sendiri perusahaan konsultan dan kontraktor desain. “Bergabung sebagai dalam sebuah brand besar memperkaya pengalaman sekaligus memantapkan saya untuk mulai memunculkan identitas desain yang lebih bebas dalam wadah  lebih mandiri,” ungkapnya saat ditanya alasan mendirikan PT. Jaya Cakra Rajawali. Perusahaan desain yang membawahi Levendig Interior.

Triple Colaboration

Pengalaman Nathan dimulai saat lulus Interior Design Universitas Tarumanagara di tahun 2007. “Saya bekerja sebagai koordinator lapangan kemudian kontraktor interior sebelum bergabung sebagai desainer  PT. Duta Abadi Primantara,” kata Nathan membuka pembicaraan. Lima tahun  bergabung, Nathan mantap memulai usaha sendiri, bersama  istri mengurusi bagian marketing, disusul dengan bergabungnya sang adik yang seorang arsitek. Berdiri tahun 2013, Levendig telah memiliki workshop sendiri di bilangan Meruya. Bagi Nathan, workshop adalah pabrik utama yang mendukung kerja Levendig. “Saya mendesain by customer dan tidak mungkin ada yang sama atau berulang. Karena itu saya harus punya workshop sendiri supaya mudah dalam pengawasan,” ujarnya.

His WinWin Solution

Tidak mudah menjadi seorang desainer dengan ego besar. Nathan menyadari bahwa sifat tersebut bukanlah bekal yang baik untuk membesarkan Levendig Interior. “Ego akan memunculkan identitas diri yang akan dikenali. Namun saya adalah desainer bukan pengguna yang akan terus berinteraksi di ruangan tersebut. Keinginan dan kebutuhan klien harus lebih penting, supaya ruangan  nyaman saat dihuni. Pembicaraan intens diperlukan untuk menggali konsep dasar perencanaan, menentukan gaya interior dan sebagainya. Dari pembicaraan akan muncul kepahaman dan kesepakatan. Di situlah saya mulai memberikan saran-saran ide, menyisipkan keidealisan dalam bentuk furnitur atau furnishing untuk membaur dalam tatanan interior ruang keinginan klien. Hal tersebut saya lakukan di semua proyek,” ia berkata.

Ia mencontohkan saat mengerjakan proyek interior kantor di lantai paling atas dengan dapur bersih yang jarang digunakan. “Kebiasaan klien yang gila kerja memunculkan ide untuk menyulap ruangan  sebagai area publik sekaligus private,” kata Nathan. Dua fungsi ruang, ia jadikan satu dengan sistem furnitur otomatis. “Saya menguasai sistem ini dan mengaplikasikan untuk mendapatkan fungsi ruang yang diinginkan konsumen dengan memanfaatkan ruangan yang ada. Sistem ini telah digunakan untuk menaikturunkan televisi ke dalam credenza. Saya adopsi untuk tempat penyimpanan  koleksi wine dan baju ganti klien. Ruangan pun bisa digunakan sebagai tempat pertemuan internal, semenit kemudian menjadi tempat nyaman untuk  bersantai,” lanjutnya. Ia memiliki cerita unik dengan proyek ini. “Klien ingin meja  yang tidak pasaran. Saya berkreasi dengan memperbesar bagian dari motif ukiran mahkota Kesultanan Cirebon untuk elemen estetis pada furnitur dan ruang. Saya bekerjasama dengan pengrajin Boyolali untuk mengukir motif tersebut di tembaga dan kayu,” katanya.

Aim Of Work

Penyuka gaya tradisional dan klasik ini mengatakan bahwa travelling membuatnya kaya wawasan untuk menciptakan beragam  furnitur dan aksessoris yang tidak  masal. Walaupun tidak praktis namun Nathan mengaku mendapat kepuasan saat berhasil membuatnya. “Karena saya adalah desainer bukan dekorator. Saya berkreasi menciptakan furnitur orisinil dan inovatif dari nol bukan hanya memadupadankan furnitur dengan aksessoris  yang ada,” katanya. “Menjadi desainer akan membuat saya tidak berhenti berkreasi, selalu bersemangat mengekplorasi motif tradisional Indonesia dan bekerja bersama pengrajin. Bagi saya kerja ini bagian dari mengangkat budaya Indonesia agar tidak mudah dilupakan khususnya para desainer muda Indonesia,” kata Nathan. “Saat ini saya sedang mengerjakan  proyek kantor yang menggunakan motif tradisional sebagai elemen arsitektur. Tunggu saja,” Nathan membocorkan.

— Fotografer : Syafril H. Sujatmoko / Dok. Levendig Interior. Teks : Pipit

Follow us Now :
FB Icon Insta Icon Twitter Icon

Leave a Reply